Makalah Ilmu Ternak Perah Sintesis Lemak Susu

MAKALAH ILMU TERNAK PERAH


“PENGARUH PEMBERIAN PAKAN TERHADAP KADAR LEMAK SUSU”





Disusun Oleh:
Tofik Adri Purnawan     (D1A017118)





FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2019

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Pakan yang diberikan untuk ternak perah berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan pakan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).
            Pemberian pakan dengan jenis yang berbeda pada ternak perah akan menghasilkan kandungan susu yang berbeda pula. Selama ini pemberian pakan hanya terbatas pada rumput dan ampas tahu, bertitik tolak dari masalah tersebut diharapkan dengan pemberian pakan konsentrat komersial dapat meningkatkan kadar lemak susu. Pakan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kualitas dan kuantitas susu. Pemberian ransum yang tidak memadai menyebabkan produksi dan kadar lemak susu yang rendah. Adanya tambahan pakan konsentrat komersial menjadi salah satu pilihannya.
            Pakan merupakan bahan yang dapat dimakan dan menyediakan zat pakan untuk ternak. Pakan merupakan salah satu sumber pendukung meningkatnya tampilan produksi dan kadar lemak susu. Penambahan mutu pakan dengan perbandingan hijauan dan konsentrat yang seimbang akan memberikan tampilan produksi dan kadar lemak susu yang bagus, untuk itu perlu adanya penelitian mengenai imbangan hijauan-konsentrat terhadap produksi dan kadar lemak susu.  
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh pemberian pakan dengan imbangan kosentrat dan hijauan yang berbeda terhadap kadar lemak susu?
2. Bagaimana pengaruh pemberian pakan kosentrat komersial terhadap kadar lemak susu?
3. Bagaimana peran massage dan pakan terhadap tampilan produksi dan kadar lemak susu?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengaruh pemberian pakan dengan imbangan kosentrat dan hijauan yang berbeda terhadap kadar lemak susu.
2. Mengetahui pengaruh pemberian pakan kosentrat komersial terhadap kadar lemak susu.
3. Mengetahui peran massage dan pakan terhadap tampilan produksi dan kadar lemak susu.


 

II. TEORI DAN PEMBAHASAN
2.1 Teori
            Lemak susu disintesis di dalam sitoplasma kelenjar susu, yang sebagian besar dalam bentuk trigliserida (97-98%) dan hanya sedikit dalam bentuk fosfolipid (2-3%). Ada 3 sumber utama asam lemak dalam triasilgliserol susu yaitu : 1) Glukosa, melalui glikolisis dan siklus asam sitrat, 2) Triasilgliserol yang dikonsumsi dari tanaman atau dibentuk oleh bakteri rumen yang diabsorbsi oleh usus sebagai triasilgliserol dan ditemukan dalam darah dalam bentuk chilomikron dan lipoprotein, 3) Asam lemak yang disintesis dalam kelenjar susu dari asetat dan Beta-hidroksibutirat (BHBA) hasil fermentasi mikroba rumen. Sumber utama gliserol untuk lemak susu adalah gliserol 3-phosfat yang dibentuk dari glukosa melalui proses glikolisis atau posforilasi gliserol dari lipolisis triasigliserol selama berada di dalam kelenjar mammary. Sumber terkecil lainnya berasal dari gliserol bebas yang terdapat di dalam pembuluh darah (Sukmawati, 2014).
            Kandungan NDF yang tinggi dapat menghasilkan kadar lemak susu yang tinggi, karena serat kasar didalam rumen akan didegradasi oleh mikroba rumen sehingga menghasilkan asam asetat yang lebih tinggi dibandingkan asam propionat. VFA digunakan sebagai sumber energi dan kerangka karbon bagi pembentukan. Asam asetat dan asam butirat akan masuk ke peredaran darah menuju hati untuk diubah menjadi asam lemak, selanjutnya masuk kedalam sel-sel sekresi ambing untuk sintesis lemak susu. Asam propionat cenderung digunakan untuk sintesis laktosa susu, sehingga berpengaruh terhadap nilai bahan kering berdasarkan kadar lemak dan protein tanpa lemak susu. Asam propionat akan masuk kedalam hati, lalu diubah menjadi glukosa untuk prekursor laktosa susu (Suhendra dkk, 2015).
            Tambahan bahan konsentrat pada pakan diberikan sebagai pilihan peternak sapi perah. Pemberian pakan konsentrat yang memiliki nilai nutrisi lebih tinggi dari pada hijauan, ditujukan untuk memberikan peluang kepada ternak agar dapat memaksimalkan pertumbuhan/ produksi. Pemberian konsentrat yang baik adalah dengan bahan baik diolah, setengah jadi atau bahan baku yang kandungan protein kasar minimal 18% dan Total Digestible Nutrient (TDN) atau bahan makanan yang dapat dicerna tidak kurang dari 75%. Pemberian ransum dengan serat kasar antara 18 – 22%  (Laryska dan Nurhajati, 2013).
2.2 Pembahasan

            Kadar lemak di dalam air susu adalah 3,45% dengan kisaran 2,50-6,0%. Kadar ini berfluktuasi dan banyak dipengaruhi oleh jenis pakan, bangsa, produksi susu, tingkat laktasi, kualitas dan kuantitas pakan. Komposisi lemak susu akan semakin menurun karena pemberian konsentrat. Menurut Sukmawati (2014), yang menyatakan bahwa kandungan protein yang cukup tinggi dalam konsentrat memacu produksi asam propionat. Pakan hijauan menghasilkan banyak asetat sebagai bahan baku sintesis lemak susu. Seperti halnya protein susu, kadar lemak susu akan menurun dengan meningkatnya produksi susu.
            Lemak susu seperti juga lemak-lemak lainnya yang terdapat dalam pakan, merupakan sumber cadangan energi yang mudah dicerna. Seperti diketahui juga beberapa vitamin yang terlarut dalam lemak antara lain vitamin A, D, E, K dan beberapa zat lain. Salah satu zat tersebut adalah karoten yang memberi warna keemasan pada susu. Persentase lemak susu bervariasi antara 2,4% - 5,5%. Menurut Laryska dan Nurhajati (2013) lemak susu terdiri atas trigliserida yang tersusun dari satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak melalui ikatan-ikatan ester. Lemak susu terbentuk dari kira-kira 12,5% gliserol dan 85,5% asam lemak, serta mempunyai berat jenis 0,93. Asam lemak susu berasal dari aktivitas mikrobiologi dalam rumen atau dari sintesis dalam sel sekretori. Asam lemak disusun rantai hidrokarbon dan golongan karboksil. Salah satu contoh dari asam lemak susu adalah asam butirat berbentuk asam lemak rantai pendek yang akan menyebabkan aroma tengik pada susu.
            Lemak susu terdiri atas trigliserida yang tersusun dari satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak (fatty acid) melalui ikatan-ikatan ester. Sekurang-kurangnya terdapat 50 macam asam lemak di dalam lemak susu, dimana 60-75% lemak yang bersifat jenuh, 25-30% lemak yang bersifat tak jenuh dan sekitar 4% merupakan asam lemak tak jenuh ganda. Asam lemak yang terdapat paling banyak adalah miristat (C14), palmitat (C16), dan stearat (C18). Lemak susu mengandung asam lemak esensial, asam linoleat dan linolenat yang memiliki bermacam-macam fungsi dalam metabolisme dan mengontrol berbagai proses biologis dan biokimia pada manusia (Sukmawati, 2014).
2.2.1 Kandungan Kadar Lemak Susu dengan Pemberian Imbangan Hijauan dan Kosentrat yang Berbeda
            Analisis statistik menunjukkan bahwa rata-rata kadar lemak susu pada perlakuan T2 berbeda nyata dengan T0 (P<0,05). Kadar lemak susu mengalami peningkatan pada perlakuan T2 sebesar 0,23%. Hal ini disebabkan karena serat kasar yang dikonsumsi sapi berada pada jumlah yang optimal yang kemudian difermentasi oleh mikroba rumen sehingga menghasilkan asam asetat yang optimal sebagai bahan dasar lemak susu.


            Rata-rata tampilan lemak susu pada T0 dan T1 tidak berbeda, demikian juga T1 dengan T2. Kadar lemak pada T1 tidak memiliki perbedaan yang nyata dengan T0 diduga karena kandungan serat kasar yang dikonsumsi oleh sapi hanya sedikit, sehingga asam asetat dan butirat yang dihasilkan juga sedikit. Jumlah asam asetat dan butirat yang sedikit ini berdampak terhadap kadar lemak susu yang rendah.
            Menurut Suhendra (2015), asam asetat dan butirat merupakan bahan dasar penyusun lemak rantai panjang pada susu. Semakin tinggi kadar serat kasar pakan, maka semakin tinggi pula kadar asam asetat dalam rumen hasil perombakan mikroba rumen. Kadar lemak susu dipengaruhi oleh serat pakan dan hasil metabolismenya berupa asetat. Ransum yang mengandung serat kasar tinggi akan banyak menghasilkan asam asetat yang merupakan prekursor sintesis de novo lemak susu di ambing.
            Serat pakan secara kimiawi dapat digolongkan menjadi serat kasar, Neutral Detergent Fiber (NDF), Acid Detergent Fiber (ADF), Acid Detergent Lignin (ADL), selulosa dan hemiselulosa. Aisyah (2009) menambahkan bahwa mikroba rumen dapat tumbuh optimal dan berfungsi optimal dengan enzim selulase yang dihasilkannya. Sumber pembentukan lemak susu ada tiga yaitu glukosa, triasilgliserol dari bahan pakan atau asam lemak yang disintesis oleh kelenjar ambing.
2.2.2 Pemberian Pakan Kosentrat Komersial
            Berdasarkan Uji F menunjukkan bahwa kadar lemak susu pada pagi hari didapatkan perbedaan yang nyata (p<0,05) terhadap pakan, tetapi tidak berbeda nyata (p>0,05) terhadap laktasi dan tidak terjadi interaksi (p>0,05) antara pemberian pakan dan laktasi. Data kadar lemak susu pada pagi dan sore dapat dilihat pada tabel : Berdasarkan Uji F menunjukkan bahwa kadar lemak susu sapi perah pada sore hari tidak didapatkan perbedaan yang nyata terhadap pakan (p>0,05), tetapi didapatkan perbedaan yang nyata terhadap laktasi (p<0,05) dan tidak terjadi interaksi (p>0,05) antara pemberian pakan dan laktasi. Setelah dilakukan Uji Duncan maka pada tabel dapat dilihat bahwa PAL2 menghasilkan kadar lemak yang tertinggi sedangkan PKL1 menghasilkan kadar lemak yang terendah. Dari hasil kandungan lemak susu pada sapi yang diberi pakan konsentrat dibandingkan ampastahu dapat diketahui bahwa, pemberian pakan ampas tahu terbukti dapat menghasilkan kadar lemak susu tertinggi (Laryska dan Nurhajati, 2013).
Tabel 2. Rata-rata dan Standart Deviasi Kadar Lemak Susu pada Pagi Hari
            Berdasarkan hasil analisis sampel ampas tahu dan konsentrat protelis berdasarkan bahan kering bebas air, ampas tahu mengandung serat kasar lebih tinggi dibanding konsentrat komersial yakni sebesar 31,10%. Perbedaan kandungan SK ini menyebabkan kadar lemak susu lebih tinggi pada sapi yang diberi ampas tahu dibanding dengan konsentrat, sesuai dengan pendapat Maheswari (2004) yang menyatakan bahwa lemak susu tergantung dari kandungan serat kasar dalam pakan. Kadar lemak susu dipengaruhi oleh pakan karena sebagian besar dari komponen susu disintesis dalam ambing dari substrat yang sederhana yang berasal dari pakan. Serat kasar yang tinggi dalam pakan akan menghasilkan asam asetat dalam jumlah tinggi dalam rumen.
            Apabila produksi asam asetat dalam rumen berkurang, akan mengakibatkan kadar lemak susu yang rendah . Konsentrat komersial tidak dapat meningkatkan kadar lemak karena pemberian secara kering dan dalam bentuk pellet sehingga tidak dapat merangsang saliva dalam proses ruminasi, hal ini diperkuat oleh pendapat Basya (2004) bahwa konsentrat dalam bentuk pellet tidak akan lama tertahan dalam rumen, hal ini menyebabkan waktu fermentasinya pun lebih singkat dibandingkan dengan hijauan, selain itu berakibat pada penurunan produksi saliva sehingga pH rumen menjadi rendah dan menyebabkan perbedaan komposisi asam lemak dalam rumen yang menjadikan asam asetat kurang tersedia dalam rumen dan lemak susu akan mengalami penurunan.
            Dalam penelitian ini juga didapatkan perbedaan yang nyata terhadap laktasi. Laktasi ke 4-5 terbukti dapat menghasilkan kadar lemak yang lebih tinggi dibandingkan laktasi ke2-3. Meningkatnya produksi susu sampai dengan sekitar 6 - 8 minggu laktasi, kadar lemak susu akan mengalami penurunan dan akan meningkat kembali pada akhir laktasi. Peningkatan ini adalah sekitar 0,5 - 1,5% dibandingkan dengan kadar lemak susu pada permulaan laktasi. Kadar lemak susupun mengalami perubahan, walaupun perubahan ini kecil. Perubahan yang terjadi sekitar 0,03% dari satu laktasi ke laktasi berikutnya dan perubahan ini berlangsung terus sampai tercapai puncak produksi susu (Basya, 2004).
2.2.3 Peran Massage dan Pakan Terhadap Tampilan Produksi dan Kadar Lemak Susu
            Hasil penelitian tentang pengaruh perlakuan terhadap produksi susu menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (Tabel 3). Hasil produksi susu yang dihasilkan pada penelitian ini yaitu produksi susu yang paling tinggi pada perlakuan M1, sedangkan hasil produksi susu yang paling rendah pada perlakuan M2. Hal ini dikarenakan pada perlakuan M2 dengan lama massage selama 5 menit menunjukkan dampak negatif terhadap produksi susu. Karena, terlalu lamanya perlakuan massage dapat mengakibatkan tingkat stress yang tinggi sehingga menyebabkan rangsangan menjadi tidak sempurna akibatnya produksi susunya menurun. Selain itu, yang menyebabkan produksi susu tidak maksimal adalah aktifitas hormon oksitosin yang menurun.
Tabel 3. Rata-Rata Produksi Susu Kambing Percobaan setelah Mendapatkan Perlakuan Perbedaan Lama Massage dan Imbangan Hijauan-Konsentrat (Setyaningsih dkk, 2013)

            Hormon oksitosin dalam darah tidak akan bertahan lama, sehingga jika perlakuan massage terlalu lama hormon oksitosin tidak akan bekerja secara optimal dan akan berpengaruh terhadap kerja sel myoepithel yang akan mengakibatkan susu yang dihasilkan tidak maksimal dan akan mengalami penurunan. Kontraksi sel myoepithel terjadi 20-60 detik setelah adanya stimulasi pada puting aktifitas hormon oksitosin dalam darah hanya bertahan sampai 6-8 menit pada sapi, karena itu sangat penting menyelesaikan proses pemerahan dengan cepat selama hormon oksitosin masih aktif yang dapat menyebabkan myoepithel berkontraksi.
            Pemberian Imbangan Pakan yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang nyata, hal ini dikarenakan kapasitas rumen yang hampir sama, sehingga kemampuan dalam mengkonsumsi ransum juga hampir sama. Jumlah produksi susu yang tidak berbeda nyata dapat dipengaruhi oleh kualitas dan komposisi ransum yang terkandung di dalamnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Ensminger (2001), bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya produksi susu adalah dari segi pemberian pakan dan minum. Pakan yang diberikan untuk ternak harus dapat memenuhi kebutuhannya untuk hidup pokok dan reproduksi.
Tabel 4. Rata-Rata Kadar Lemak Susu Kambing Percobaan setelah Mendapatkan Perlakuan Perbedaan Lama Massage dan Imbangan Hijauan-Konsentrat (Setyaningsih dkk, 2013)

Ilustrasi 1. Grafik Diagram Batang Kadar Lemak Susu Kambing Percobaan setelah Mendapatkan Perlakuan Perbedaan Lama Massage dan Imbangan Hijauan-Konsentrat
            Hasil penelitian mengenai pengaruh perlakuan terhadap produksi susu menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata ditampilkan pada Tabel 4. Kadar lemak yang terkandung dalam susu dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik pengaruh dari faktor fisiologis ternak itu sendiri maupun pengaruh dari lingkungan, yang termasuk pengaruh dari lingkungan salah satunya yaitu pengaruh dari pakan, sedangkan lama massage bukan termasuk faktor yang dapat mempengaruhi kadar lemak susu, karena massage hanya perlakuan dari luar sedangkan kadar lemak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti bulan laktasi maupun pakan. Kadar lemak susu dipengaruhi beberapa faktor yaitu faktor fisiologis dan faktor lingkungan. Faktor fisiologis antara lain: bangsa, umur, bulan laktasi, kebuntingan dan interval kelahiran (Setyaningsih dkk, 2013).

III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan 
1. Tidak ada perbedaan tampilan kadar lemak susu dengan pemberian imbangan pakan kosentrat dan hijauan yang berbeda.
2. Pemberian pakan konsentrat komersial tidak dapat meningkatkan produksi maupun kadar lemak susu dibandingkan dengan ampas tahu.
3. Pemberian rangsangan (massage) dan imbangan hijauan konsentrat yang berbeda menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap konsumsi bahan kering, produksi susu maupun kadar lemak susu.



DAFTAR PUSTAKA

0 Response to "Makalah Ilmu Ternak Perah Sintesis Lemak Susu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel