Laporan Praktikum Uji Kebuntingan Fisiologi Ternak

Laporan Praktikum Uji Kebuntingan

Laporan Praktikum Uji Kebuntingan Fisiologi Ternak
sumber: pixabay

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
            Kebuntingan adalah keadaan dimana fetus sedang berkembang didalam uterus seekor hewan betina. Sebelum terjadi kebuntingan pada ternak didahului dengan adanya proses feertilisasi. Fertilisasi terjadi jika ada proses perkawinan antara ternak jantan dengan ternak betina yang sudah pubertas. Setelah berakhirnya proses kebuntingan pada peiode akan diakhiri dengan proses kelahiran.
            Terjadinya fertilisasi adalah hal yang sangat penting. Sperma haruslah berada didalam saluaran reproduksi betina, uterus untuk suatu jangka waktu tertentu agar dapat membuahi ovum secara efektif. Hal ini disebut kapasitasi spermatozoa. Enzim-enzim tersebut selanjutnya dapat menimbulkan zona pelusida. Kapasitasi akan menyebabkan aktifnya metabolisme sel-sel sperma dengan meningkatkan laju glikolisis dalam sel dan peningkatan metabolisme oksidatif. Kapasitasi dimulai didalam uterus dan berakhir didalam oviduk.
Kebuntingan adalah proses setelah fertilisasi sampai proses partus atau kelahiran. Lama kebuntingan dari suatu ternak akan berbeda dari satu bangsa ternak ke bangsa ternak lainnya. Lamanya kebuntingan dipengaruhi oleh jenis ternak, jenis kelamin dan jumlah anak yang dikandung dan faktor lain seperti umur induk,musim, sifat genetik dan letak geografik.

1.2  Rumusan Masaalah
  1. Apa arti dari kebuntingan?
  2. Bagaimana siklus dari kebuntingan?
  3. Hormon apa saja yang mempengaruhi proses kebuntingan?
  4. Apa peran dan fungsi hormon kebuntingan?
1.3 Tujuan
  1. Mengetahui arti kebuntingan.
  2. Mengetahui siklus atau proses terjadinya kebuntingan.
  3. Mengetahui hormon yang berpengaruh terhadap kebuntingan.
1.4  Manfaat
            Manfaat yang dapat di ambil dari makalh ini yaitu dapat menjadi salah satu media pengetahuan atau sumber bacaan mengenai kebuntingan serta hormon yang mempengaruhi proses kebuntingan.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Proses terbentuknya sel telur dan seperma disebut pembuahan (fertilisasi). Masing-masing sel telur dan sperma mempunyai setengah pasang kromosom. Apabila  dari pembuahan terjadi embrio hasil pembuahan ini akan memiliki kromosom yang berpasangan. Sesudah terjadi pembuahan atau sesudah embrio di implikasikan, dimulailah masa kebuntingan. Kebuntingan di akhiri dengan adanya kelahiran. Kebuntingan induk dapat di ketahui dengan melihat tanda-tanda:ambingnya mulai membesar, terlihat lebih tenang, bulu atau wol terlihat lebih besar, perut sebelah kanan semakin besar (Mulyono, 2011).
            Lama kenuntingan adalah periode dari mulai terjadinya fertilisasi sampai terjadinya kelahiran normal. Lamanya kebuntingan berbeda dari bangsa ternak ke bangsa ternak lainya. Lamanya kebuntingan di pengaruhi oleh jenis ternak, jenis kelamin, dan jumlah anak yang di kandung dan faktor lain seperti umur induk, musim, sifat genetik, dan letak geografik (Prasojo, 2011).
            Kebuntingan biasanya terjadi perubahan pada seluruh tubuh, terutama oleh pengaruh hormon hormon somatropin, estrogen dan progesteron. HCG merupakan suatu hormon yang di hasilkan oleh jaringan plasenta yang masih muda dan di keluarkan lewat urin. Hormon ini juga dihasilkan bila terdapat proliferasi yang abnorml dari jaringan epitel korion seperti chorio carsinoma. Kebuntingan akan di tandai dengan meninhgkatnya kadar HCG dalam urin pada trimester 1. HCG disekresikan 7 hari setelah ovulasi (Sri, 2013)




BAB III
PEMBAHASAN

3.1     Pengertian Kebuntingan


Wiwi Isaneni (2006), menyatakan istilah bunting atau kebuntingan biasanya digunakan untuk hewan, sedangkan untuk manusia biasanya digunakan istilah kehamilan/hamil. Kebuntingan akan terjadi jika ovum hasil ovulasi dapat dibuahi oleh sperma, dan mengalami perkembangan lebih lanjut menuju tahap blastula, gastrula, dan seterusnya. Sedangkan menurut Frandson (1992) yang menyatakan kebuntingan berarti keadaan anak sedang berkembang di dalam uterus seekor hewan. Menurut Rangga (2014), kebuntingan merupakan perkembangan embrio pasca fertilisasi menjadi fetus sampai dengan kelahiran anak hewan/ternak.
Apabila perkembangan embrio telah selesai, hewan muda akan keluar dari tudung induk. Apabila ovum dibuahi di luar tubuh dari induk, maka embrio juga pada umumnya akan berkembang di luar tubuh induk juga. Embrio memperoleh seluruh seluruh makanan yang diperlukan dari cadangan makanan yang telah tersedia di dalam ovum/telur. Kondisi lingkungan di luar tubuh hewan seringkali tidak sesuai dengan kondisi yang diperlukan untuk perkembangan embrio yang maksimal.

3.2     Peroide kebuntingan

Gatot Prasojol, lis Arifiantin, dan Kusdiantoro Mohamad (2010), menyatakan bahwa lama kebuntingan adalah periode dari mulai terjadinya fertilisasi sampai teljadinya kelahiran normal. Lama kebuntingan  pada ternak akan memiliki perbedaan karena dipengaruhi oleh beberapa faktor. Lamanya kebuntingan dipengaruhi oleh jenis sapi, jenis kelamin dan jumlah anak yang dikandung dan faktor lain seperti umur induk, musim, sifat genetik dan letak geografik. Lama kebuntingan pada induk yang mengandung pedet jantan adalah 284,9±5,7 hari, dan induk yang mengandung pedet betina hampir sarna yaitu 283,9± 5,6 hari.

3.3    Diagnosa Kebuntingan

Menurut Milona Elsa Nova, Ginta Riady, dan Juli Melia (2014) Diagnosis kebuntingan pada ternak betina sangat penting dilakukan setelah dikawinkan baik secara kawin alami atau inseminasi buatan (IB). Secara umum, diagnosis kebuntingan dini dilakukan untuk mengetahui ternak yang bunting ataupun tidak bunting segera setelah dikawinkan, sehingga waktu produksi yang hilang akibat infertilitas dapat segera ditangani dengan tepat. Para peternak biasanya menggunakan cara untuk mendeteksi kebuntingan ternak di lapangan dengan melihat tingkah laku ternak. Jika ternak tidak menunjukkan tanda-tanda berahi kembali setelah perkawinan terakhir, maka peternak menyimpulkan ternak tersebut bunting, begitupun sebaliknya. Metode ini disebut pengamatan non-return to estrous. Pemeriksaan secara laboratorium menggunakan sampel plasma darah atau air susu, hewan betina yang tidak menunjukkan gejala berahi kembali setelah kawin menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi progesteron yang berasal dari korpus luteum. Tingkat akurasi diagnosis kebuntingan melalui deteksi keberadaan progesteron biasanya berkisar antara 80-90% untuk diagnosis hewan betina positif bunting tetapi tingkat akurasinya meningkat bisa mencapai 100% untuk diagnosis betina tidak bunting. Diagnosis kebuntingan dini diperlukan dalam hal:
1)      Mengetahui ternak yang tidak buntuing setelah perkawinan atau IB
2)      sebagai pertimbangan apabila ternak harus dijual atau di-culling
3)      menekan biaya pada breeding programme yang menggunakan teknik hormonal yang mahal
4)      penerapan manajemen ransum ekonomis.
Secara umum, ada dua metode pemeriksaan keberadaan progesteron untuk diagnosis kebuntingan yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif dapat menetapkan konsentrasi absolut progesteron seperti menggunakan teknik radio immuno assay (RIA) dan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Metode ELISA atau juga disebut metode enzyme immuno assay (EIA) dapat digunakan untuk diagnosis kebuntingan dini pada sapi perah dan kambing perah secara kualitatif. Metode kualitatif hanya dapat menampilkan konsentrasi relatif progesteron sebagai “tinggi” atau “rendah” dan menghasilkan reaksi warna atau reaksi aglutinasi.
            Deteksi kebuntingan dini yang akurat dapat meningkatkan efisiensi produksi. Pengaturan manajemen yang baik dilakukan dengan membedakan sedini mungkin antara ternak bunting dan tidak bunting sehingga dapat menekan biaya produksi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Santoso,dkk (2016) yang menyatakan bahwa keberhasilan dalam pemeriksaan kebuntingan dini akan meningkatkan efisiensi reproduksi ternak dengan mengurangi kehilangan waktu untuk menghasilkan anak akibat kesalahan pendugaan kebuntingan. Pemeriksaan kebuntingan dini dan penentuan jumlah anak yang akan dilahirkan memiliki nilai besar dalam meningkatkan efisiensi reproduksi. Penggunaan ultrasonografi (USG) dalam bidang reproduksi telah meningkatkan pengetahuan tentang fisiologi dan pengendalian reproduksi hewan. Penggunaan USG telah digunakan dalam mempelajari ovarium pada ternak ruminansia besar dan 10 tahun kemudian baru digunakan pada ternak ruminansia kecil.
            Hal tersebut sama dengan pendapat Tita Damayanti Lestari (2011) yang menyatakan bahwa metode deteksi kebuntingan pada ternak dilakukan secara klinik yaitu dengan pemeriksaan eksplorasi rektal dan ultrasonografi (USG). Metode eksplorasi rektal membutuhkan petugas pemeriksa kebuntingan (PKB) yang trampil dan berpengalaman guna mendapatkan diagnosa unsur kebuntingan yang tepat dengan tidak menyakiti baik fetus maupun induknya. Metode kebuntingan ini baru dapat dideteksi pada usia diatas 40 hari, sehingga ternak tersebut baru diketahui bunting atau tidak bunting sesudah lewat satu siklus berahi. Pemeriksaan dini dengan eksplorasi rektal ini didasari pada terjadinya perubahan dan pembesaran bentuk cornua uteri yang belum menjamin adanya konseptur di dalamnya. Deteksi kehamilan menggunakan USG dapat dideteksi pada umur 22 hari setelah inseminasi.



BAB IV
PENUTUP


4.1 Kesimpulan
  1. Kebuntingan merupakan perkembangan embrio pasca fertilisasi menjadi fetus sampai dengan kelahiran anak hewan/ternak. 
  2. Periode kebuntingan: periode ovum, periode embrio dan periode fetus. Periode ini disambung oleh periode fetus. 
  3. Hormon HCG yang terdapat pada urine wanita hamil ketika dimasukkan ke dalam kloaka katak jantan (buffo vulgaris) akan merangsang katak tersebut mengeluarkan spermatozoa. 

4.2 Saran

  1. Katak yang diuji seharusnya lebih dari satu ekor untuk meminimalisasi jika katak pertama yang diuji mengalami kegagalan. 
  2. Metode pengecekan ditambah dengan metode lain selain uji galli mainini.

Untuk hasil selengkapnya termasuk daftar pustaka dapat di download pada link berikut Download Laporan Praktikum Uji Kebuntingan

0 Response to "Laporan Praktikum Uji Kebuntingan Fisiologi Ternak"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel